Khamis, 4 Mac 2010

Allah Menjadikan Anda Manusia Yang Adil Dan Terpilih


Keadilan merupakan tuntutan akal dan juga syariat. Keadilan adalah tidak berlebihan-lebihan, tidak melampui batas, tidak memboroskan dan tidak menghambur-hamburka n. Maka barangsiapa menginginkan kebahagiaan, ia harus sentiasa mengendalikan setiap perasaan dan keinginannya. Ia harus pula mampu bersikap adil dalam kerelaan dan kemurkaannya dan juga adil dalam kegembiraan dan kesedihannya. Bagaimanapun, tindakan berlebihan dan melampui batas dalam menerima segala peristiwa merupakan bukti kezaliman kita terhadap diri kita sendiri.

Betapa bagusnya keadilan itu. Betapa tidak, syariah sentiasa ditetapkan dengan prinsip keadilan. Demikian pula dengan kehidupan ini: yang juga berjalan sesuai dengan konsep keadilan. Manusia yang paling sengsara adalah dia yang menjalani kehidupan ini dengan hanya mengikuti hawa nafsu dan menuruti setiap dorongan emosi serta keinginan hatinya. Pada keadaan yang demikian itu, manusia akan merasa setiap peristiwa menjadi sedemikian berat dan sangat membebani, seluruh sudut kehidupan ini menjadi semakin gelap gulita dan kebencian, kedengkian serta dendam kesumat pun mudah bergolak di dalam hatinya.

Dan akibatnya, semua itu membuat seseorang hidup dalam dunia khayalan dan ilusi. Ia akan memandang setiap hal di dunia ini musuhnya, ia menjadi mudah curiga dan merasa setiap orang di sekelilingnya sedang berusaha menyingkirkan dirinya dan ia akan selalu dibayangi rasa was-was dan kekhuatiran bahawa dunia ini setiap saat akan merampas kebabagiannya. Demikianlah, maka orang seperti itu sentiasa hidup di bawah naungan awan hitam kecemasan, kegelisahan dan kebimbangan.

Menyebarkan desas-desus yang dapat menggelisahkan orang lain sangat dilarang oleh syariat dan termasuk tindakan murahan. Itu hanya akan dilakukan oleh orang-orang yang miskin nilai-nilai moral dan jauh dari ajaran-ajaran Islam.

“Mereka (kerana rasa bersalah, sentiasa dalam keadaan cemas sehingga) menyangka tiap-tiap jeritan (atau riuh-rendah yang mereka dengar) adalah untuk membahayakan mereka. Mereka itulah musuh yang sebenar-benarnya”

(QS. Al-Munafiqun: 4)

Dudukkanlah hati anda pada kerusinya, nescaya kebanyakan hal yang dikhuatirkan tidak akan pernah terjadi. Dan sebelum sesuatu yang anda risaukan itu benar-benar terjadi, perkirakan sahaja apa yang paling buruk darinya. Kemudian, persiapkan diri anda untuk menghadapinya dengan tenang. Dengan begitu, anda akan dapat menghindari semua bayangan-bayangan menakutkan yang selalu mengoyak-ngoyak hati sebelum hal yang ditakuti benar-benar terjadi.

Wahai orang yang berakal dan sedar, tempatkan segala sesuatu itu sesuai dengan ukurannya. Jangan membesar-besarkan peristiwa dan masalah yang ada. Bersikaplah secara adil, seimbang dan jangan berlebihan. Jangan pula hanyut dalam bayang-bayang palsu dan fatamorgana yang menipu.

Hayatilah makna keseimbangan antara kecintaan dan kebencian yang diajarkan dalam hadits Rasulullah berikut: "Cintailah orang yang anda cintai secara berpada-pada, sebab mungkin suatu hari nanti dia menjadi musuhmu. Dan, bencilah musuhmu sesuai dengan kadarnya, sebab mungkin suatu hari nanti dia menjadi orang yang anda cintai." Renungkan pula firman Allah berikut,

“Mudah-mudah Allah mengadakan perasaan kasih sayang antara kamu dengan orang-orang yang kamu musuhi dari kerabat kamu itu (dengan jalan menjadikan mereka insaf dan memeluk Islam). Dan(ingatlah) , Allah Maha Kuasa (atas tiap-tiap sesuatu) dan Allah Maha Pengampun, lagi Maha Penyayang”

(QS. Al-Mumtahanah: 7)

Sesungguhnya kebanyakan kebimbangan dan desas-desus itu amat sedikit kebenarannya dan jarang sekali yang benar-benar terjadi. Oleh itu, lebih baik tidak dipercayai.

Tiada ulasan:

Catat Ulasan

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...